Amotsyamsurimuda dan Sebuah Esai Mode Busana Pria

Jakarta, Kirani – Amotsyamsurimuda merupakan lini busana pria atau menswear yang berakar pada desain kontemporer modern dan tempat struktur berpadu dengan ekspresi. Melalui setiap koleksi yang diciptakan mengusung kepekaan yang tajam terhadap bentuk, proporsi, dan detail.

Selain itu, lini busana pria ini juga menawarkan siluet yang terasa terencana namun tetap kasual tanpa usaha berlebih. Merek ini mengeksplorasi titik temu antara tradisi dan modernitas. Bahkan, sering kali menginterpretasikan ulang elemen klasik menjadi sesuatu yang sangat kekinian, menghasilkan pakaian yang memukau secara visual namun tetap sangat nyaman untuk dikenakan.

Di panggung Jakarta Fashion Festival JF3 2026, Amotsyamsurimuda mempersembahkan “Heirloom Fantasy”yang berlangsung di Fashion Tent Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Selasa (28/7).

Koleksi “Heirloom Fantasy”by Amotsyamsurimuda bermakna sebuah esai mode tentang memori, transformasi, dan penciptaan jati diri.

Koleksi ini berawal dari sebuah penemuan: kotak-kotak berisi kain yang terlupakan dan tersimpan di rumah orang tua sang desainer. Tidak tersentuh selama bertahun-tahun, material-material ini membawa beban sunyi dari kehidupan dan era lain memuat potongan cerita yang menanti untuk dikenang kembali.

Pada saat yang sama, sang desainer mendalami dunia gerakan New Romantic, sebuah momen budaya yang lekat dengan gaya busana teatrikal, kecantikan yang dieksplorasi secara berlebihan, maskulinitas yang lembut, serta kebebasan untuk mengonstruksi identitas diri sendiri. Dan “Heirloom Fantasy” sebagai titik temu antara kedua dunia tersebut.

Menggunakan tekstil antik, kain tradisional, dan material warisan yang dulunya terstruktur, konvensional, dan terasa sakral dalam konteks aslinya dipotong, dibentuk dan ditransformasikan menjadi siluet yang terinspirasi oleh semangat flamboyan kultur klub malam tahun 1980-an.

Kemudian I bagian bahu yang lebar, kemeja yang longgar melambai, lalu celana berpinggang tinggi atau high-waisted, dan kerah yang dramatis menjadi sarana untuk menyampaikan narasi baru.

Koleksi ini bukanlah sebuah tindakan pelestarian. Namun, ini adalah sebuah tindakan transformasi. Dari masa lalu dan masa kini berpadu., dengan warisan budaya bertemu dengan fantasi. Apa yang dulunya diwariskan kini diciptakan kembali, membuktikan bahwa tradisi tidaklah kaku. Tradisi adalah sesuatu yang dapat dibentuk kembali, diinterpretasikan ulang, dan dijadikan sepenuhnya milik sendiri.

Koleksi ini mengajak kita untuk membayangkan warisan budaya bukan sebagai sesuatu yang harus dilindungi di balik kaca pajangan. Namun, ia sebagai sesuatu yang hidup, yang mampu berevolusi menjadi bentuk keindahan yang baru.

Teks: Hadriani Pudjiarti I Foto: JF3 2026