Yuk, Kenali dan Cegah Stunting Pada Anak

Jakarta, KiraniStunting atau kerdil merupakan kondisi anak yang mengalami gagal tumbuh dibandingkan dengan anak lain pada rentang usia yang sama. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi sejak anak masih berada di dalam kandungan, hingga usianya mencapai dua tahun.

 

Salah satu gejala stunting yang mudah dikenali adalah pada usia dua tahun, tinggi badan anak kurang dari 85 cm. Bila tidak ditangani segera, kondisi ini akan mengakibatkan kekerdilan permanen dan kehilangan kemampuan untuk bertumbuh hingga anak mencapai usia dewasa.

 

Menurut World Health Organization (WHO), penyebab stunting sangat kompleks karena melibatkan berbagai faktor pada sebuah negara. Stunting bisa menjadi indikator dari pertumbuhan ekonomi politik, kesehatan, pendidikan, kebudayaan, pertanian, dan sistem pangan, juga kondisi lingkungan hidup di sebuah negara.

 

Kondisi yang tidak kondusif ini mengakibatkan kurangnya perawatan terhadap rumah tangga, pemberian ASI yang kurang maksimal, sulitnya mendapatkan makanan pendamping ASI, hingga terjadinya infeksi terhadap anak. Yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya stunting pada anak-anak di negara tersebut.

 

Bukan hanya kekerdilan, stunting juga memiliki dampak yang sangat luas pada tumbuh kembang anak. Dalam jangka pendek, kondisi ini berakibat pada menurunnya kesehatan anak, menurunnya kemampuan kognitif, motorik, dan bahasa pada anak.

 

Stunting dalam level parah juga dapat mengakibatkan kematian. Sementara pada jangka panjang, stunting berdampak pada penurunan kualitas remaja, kecerdasan, kesehatan reproduksi, serta produktivitas kerja. Atau dapat disimpulkan, dalam skala luas, kondisi stunting berdampak pada menurunnya kualitas generasi di masa yang akan datang.

 

Dengan gizi cukup saat bayi, kondisi stunting dapat diperbaiki

 

Stunting di Indonesia

Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah masih ada anak-anak yang mengalami stunting? Sayangnya, di negara kita stunting menjadi masalah yang cukup serius. Tingkat stunting di Indonesia dianggap sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Wow! Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Rikesda) tahun 2010, data balita stunting di Indonesia mencapai 35,6%. Angka ini meningkat menjadi 37,2% pada tahun 2013. Yang artinya, satu dari tiga anak di Indonesia mengalami masalah stunting, atau setara dengan 9,5 juta balita di Indonesia. Angka yang luar biasa besar, yang mungkin tidak disadari oleh kita yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta.

 

Melihat kondisi demikian, dapat diartikan Indonesia berada dalam kondisi darurat stunting. Dan jika hal ini dibiarkan terus berlanjut, akan menjadi beban berat bagi negara. Mengapa? Karena balita stunting bukan hanya mengalami tubuh dengan tinggi badan di bawah rata-rata, tetapi juga berpotensi memiliki masalah lain yang lebih mengkhawatirkan yaitu tidak berkembangnya neuron otak secara sempurna. Anak yang terkena masalah stunting memiliki banyak blank spot di otaknya dan mengakibatkan berkurangnya daya saing anak tersebut di masa depan.

 

Dampak Stunting

World Health Organization (WHO) membagi dampak stunting menjadi dua, yaitu dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek adalah meningkatnya mortalitas dan morbiditas. Di mana dalam masa tumbuh kembang anak akan mengakibatkan penurunan perkembangan kognitif, motorik dan bahasa. Hal ini secara otomatis akan menghadirkan dampak lain di bidang ekonomi berupa peningkatan pengeluaran untuk biaya kesehatan.

 

Sementara itu dampak jangka panjang dari stunting adalah perawakan tubuh yang pendek, peningkatan resiko obesitas dan komorbiditas, juga penurunan kesehatan reproduksi. Dalam masa tumbuh kembang akan terjadi penurunan prestasi dan kapasitas belajar pada anak, juga penurunan kemampuan dan kapasitas kerja pada orang dewasa.

 

Perhatikan gizi ibu hamil untuk cegah stunting

 

Hapuskan Stunting

Sebagai salah satu negara dengan masalah stunting terbesar, Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah. Salah satu program yang tengah digerakkan oleh Kementerian Kesehatan adalah mengembalikan pola hidup sehat masyarakat, baik pola makan maupun lingkungan. Selain intervensi gizi, perlu diperhatikan juga masalah sanitasi dan kebersihan lingkungan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, karena anak pada usia di bawah dua tahun sangat rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.

 

Infeksi bakteri kronis atau diare yang disebabkan oleh kebersihan dan sanitasi yang kurang bersih mengakibatkan sulit diserapnya gizi ke dalam tubuh. Semakin sering si anak terpapar infeksi dan terserang diare, semakin tinggi pula potensi anak tersebut akan menderita stunting. Dengan demikian, kebersihan dan sanitasi yang dijaga dengan baik akan mengurangi potensi stunting pada anak. Pendidikan untuk mencuci tangan sebelum makan atau melakukan sesuatu perlu terus diterapkan agar menjadi kebiasaan di dalam masyarakat.

 

Salah satu pencegahan stunting yang paling penting adalah pada masa kehamilan. Dalam kandungan ibu, janin membutuhkan pemenuhan gizi optimal hingga 1.000 hari sejak kehidupan pertama. Yang artinya, sejak dalam kandungan hingga anak berusia 2-2,5 tahun, pemenuhan gizinya harus benar-benar diperhatikan.

 

Tak seorang pun yang menginginkan kondisi stunting terjadi pada anak kita. Oleh karena itu perhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya stunting, dan tentu saja orang tua menjadi pintu gerbang utama pencegahan stunting terhadap anak.

 

Untuk itu diperlukan pendidikan bagi para calon orang tua agar didapatkan pemahaman yang benar dalam menjaga kehamilan, untuk mencegah terjadinya stunting pada anak yang dilahirkan kelak.

 

 

Teks : Setia Bekti | Foto : Dok. Istimewa

 

 

Facebook Comments