Hasil Survei, Mayoritas Masyarakat Indonesia Tetap Optimis dan Siap Membantu, Saat Pandemi Covid-19

Jakarta, Kirani – Konsultan Brand ETNOMARK melakukan riset untuk mengenali perilaku masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid-19 ini. Ada delapan dimensi perilaku yang mereka teliti untuk melihat bagaimana masyarakat bersosialisasi selama pandemi.

Total ada 609 responden yang mereka teliti dengan metode survei secara daring. Lama survei dilakukan selama satu pekan pada awal April 2020, dengan responden adalah online user yang aktif, pengguna WhatsApp.

Ke-delapan perilaku yang diteliti adalah pengetahuan tentang Covid-19, Work from Home (WFH), donasi, berbagi pengetahuan, dampak bisnis/personal, berbelanja, karakter psikologis dan keseharian.

Dari hasil survei didapati bila dalam pengetahuan tentang Covid-19, sebanyak 47 persen responden menyatakan diri sebagai orang yang awam saja. Hasil ini hanya unggul tipis dari mereka yang menyatakan diri sebagai mendadak pakar, yaitu sekitar 45 persen.

Sementara untuk perilaku WFH, sebesar 71 persen responden menyatakan bekerja sebatas yang digariskan perusahaan.

Donasi berdatangan dari segala lapisan masyarakat

 

Perilaku Donasi, Berbelanja dan Keseharian

Untuk perilaku donasi, sebesar 83 persen responden memilih dirinya sebagai kelompok ‘malaikat’. Ini sebanding dengan perilaku dampak bisnis/personal, karena 88 persen dari responden memilih sebagai kelompok yang menyatakan keikhlasannya berkorban dalam kondisi sulit ini. Adapun, untuk perilaku berbelanja, sebesar 78 persen responden menyatakan dirinya sebagai wakil keluarga dalam berbelanja.

Hal menarik dari penelitian ini ditemukan pada hasil terkait perilaku karakter psikologis. Karena sebanyak 64 persen responden menyatakan dirinya sebagai orang yang optimis di tengah kondisi pandemi Covid-19. Sementara pada perilaku keseharian, 40 persen responden mengatakan mempunyai energi lebih untuk mengerjakan hobi, ibadah, olahraga atau sekedar bermedia sosial.

Melibatkan 609 Responden

Secara menyeluruh, survei ini mendapati bahwa 70 persen dari keseluruhan responden berperilaku sosialisme dan berorientasi pada sesama. Masih ada 27 persen responden yang berperilaku positif tetapi masih berorientasi pada diri sendiri dan 3 persen cenderung egosentris.

“Sebanyak 70 persen dari 609 responden termasuk kategori orang dengan gaya perilaku sosialisme dan berorientasi pada sesama. Ini sejalan dengan kultur masyarakat Indonesia dan khususnya dalam masa sulit seperti ini, kepedulian dan saling tolong menolong itu penting,” kata Brand Consultant dan Ethnographer Director ETNOMARK Consulting, Amalia E. Maulana, pada Kamis, 9 April 2020.

Salah satu yang menarik dalam studi ini adalah disamping munculnya para ANGEL (Malaikat) yang baik hati, ada sekelompok orang yang dijuluki dengan istilah ‘COVIDIOT’. Covidiot menggambarkan perilaku negatif seseorang seputar tetap bertahan dengan kebiasaan lama sebelum adanya pandemi Covid, sehingga membahayakan orang lain, misalnya tetap berkerumun dan tidak jaga jarak.

Atau, perilaku orang yang sulit untuk diberikan penjelasan (‘sulit dibilangin’). Contoh Covidiot lainnya adalah diminta bekerja dari rumah malah jalan-jalan keluar rumah, pergi berlibur atau pulang kampung.

Prilaku panic buying menghadapi Covid-19

 

Sosok Covidiot dan Hasil Penelusuran Postingan di Medsos

Seputar perilaku berbelanja, Covidiot adalah yang kuatir secara ekstrim ditunjukkan dengan berbelanja menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap seperti tenaga medis sehingga meresahkan pengunjung supermarket, atau perilaku memborong barang (panic buying).

Amalia menuturkan sebelum survei kuantitatif secara daring, ETNOMARK Consulting yang mempunyai spesialisasi di bidang penelitian etnografi pemasaran, mengadakan penelusuran tentang tipe-tipe perilaku masyarakat ini. Penelitian tersebut dilakukan dengan metode kualitatif melalui etnografi online selama 3 minggu di bulan Maret 2020.

Secara kualitatif, insight diperoleh dari hasil penelusuran ratusan posting di media sosial dan sumber media online. Berbagai cerita masyarakat sehari-hari ditangkap dari keyword hashtag yang digunakan dalam media sosial, seperti #DirumahAja #JagaJarakDulu #StaySafeStayHome #IsolasiDiri #BelanjaDariRumah #LawanCovid19 #LockDownIndonesia dan banyak lagi yang lain. Dari sana ditemukan dan digali insight-insight yang menarik.

Insight diperkaya lagi dengan ikut masuk, berbicara, mendengarkan dan ikut serta dalam diskusi pembahasan komunitas di 35 WhatsApp Group (WAG) yang penduduknya saling aktif berinteraksi.

“Insights dari studi etnografi tersebut digunakan untuk mendesain studi lanjutan, yaitu melalui survei daring. Survei ini selain bertujuan untuk memetakan sejauh mana gaya perilaku masyarakat Indonesia di kota besar di masa Pandemi Covid ini, juga membantu responden dalam mengukur gaya perilaku masing-masing,” kata Amalia.

 

 

 

Teks : Hadriani. P | Foto : Dok. Istimewa

 

 

Facebook Comments