Film Parasite dan Inferioritas Bangsa Asia

Jakarta, Kirani – Film Korea berjudul Parasite mencetak sejarah di gelaran Academy Award ke-92 dengan memboyong empat piala Oscar dari kategori Best Picture, Best Director, Best Foreign Language, dan Best Original Screenplay. Kemenangan ini disambut meriah di Korea, Presiden Korea dan para aktor papan atas memberikan sambutan hangat atas prestasi film yang disutradarai Bong Joon Ho ini.

 

Dikutip dari Soompi, Presiden Korea Moon Jae memberikan ucapan selamat melalui unggahan di twitter. Dia memberi selamat kepada tim “Parasite” atas prestasi bersejarah mereka dan berjanji untuk mendukung industri film Korea sehingga dapat berkembang lebih baik lagi. Puluhan artis Korea juga memberikan ucapan selamat, terharu, dan bangga atas pencapaian film Parasite ini.

 

Film Parasite mengisahkan kehidupan masyarakat Korea dengan gap kelas sosial. Satu keluarga yang tinggal di kontrakan bawah tanah, bertahan hidup dengan melakukan apa saja asal bisa menghasilkan uang. Sulit bagi mereka mendapat pekerjaan yang layak karena pendidikan yang rendah. Semacam lingkaran setan yang tak ada putusnya.

 

Keluarga lainnya adalah keluarga kaya raya yang tinggal di rumah super besar, mewah, hubungan antar keluarga yang hangat, dan pendidikan anak terjamin. Lalu dimana letak istimewanya Parasite sehingga bisa memenangkan Best Original Screenplay?

 

Kesederhanaan dan realitas yang digambarkan film Parasite adalah kekuatannya. Parasite memotret isu sosial yang benar-benar terjadi dalam masyarakat. Orang mungkin berfikir itu persoalan biasa, tapi film ini bisa menjembatani gap sosial tersebut.

 

Dan ketika menonton, memang benar tak ada yang kecewa usai menyaksikan bagaimana setiap adegan ditata sedemikian rupa sehingga indah di mata dan di hati. Hanya di film ini kita bisa melihat pemainnya menertawakan banjir, merokok di atas WC yang meluap mengeluarkan cairan hitam, menertawakan nasib diri sendiri. Secara visual, film ini juga indah ditonton bahkan sampai bagian terkecil sebuk buah pear ditampilkan melayang. Intinya, film Parasite memang layak untuk menang.

 

Salah satu adegan dalam Film Parasite

 

Dilangsir dari Bicara Box Office, film Parasite yang tidak diputar di jaringan XXI mampu meraup 480 ribu penonton di Indonesia. Ini jelas bukan pencapaian yang biasa. Pujian penontonlah yang menarik calon penonton lain untuk menonton film ini.

 

Tak heran jika kemenangan Parasite disambut meriah juga di Indonesia. Setidaknya dari semua yang sudah menonton film ini akan merasakan kegembiraannya. Apalagi kita merasa masih satu ras, Asia. Menganggap kemenangan Oscar adalah kemenangan kita juga.

 

Ada apa dengan ras Asia? Mengapa kita mesti bangga? Seolah-olah memang selama ini kita ini memang ditakdirkan hidup di bawah ras kulit putih di Eropa dan Amerika. Memang secara usia perfilman, Indonesia juga Korea tak bisa disamakan dengan mereka. Bayangkan, Oscar sendiri sudah berusia 92 tahun, sementara kemerdekaan Indonesia dan Korea belum mencapai angka itu.

 

Penjajah Belanda memberlakukan sistem kasta pada warga pendatang dan pribumi pada masanya. Jadi rasa inferioritas bangsa Asia ini seperti sudah mendarah daging karena dari orangtua kita diajarkan bule itu lebih pinter dari kita.

 

Ketika kita menyebut kemenangan Parasite adalah kemenangan Asia, saya merasa kita sejatinya sedang merasa inferior. Tak percaya diri bahwa kita mampu. Apalagi jika melihat perkembangan sinema Hollywood dengan kecanggihan tehnologinya. Makin tak percaya dirilah kita.

 

Benarkah itu? Parasite membalikkannya. Parasite membuktikan budaya Korea juga bisa dikelola menjadi cerita film yang menarik seluruh dunia. Karena cerita yang menarik adalah cerita yang bisa dirasakan oleh penontonnnya.

 

Cerita futuristik, superhero biar saja menjadi milik sinema Hollywood yang teknologinya sulit kita kejar. Korea sudah membuktikan. Bagaimana dengan Indonesia? Saya percaya budaya Indonesia, menjanjikan nilai lebih jika dikemas dalam sinema. Kuncinya, kenali dan percaya diri dengan budaya sendiri.

 

 

Teks : Puput Puji Lestari | Foto : Dok. Istimewa 

 

Facebook Comments